Arsip

Posts Tagged ‘rumah sakit’

Hubungan Penatalaksanaan Personal Hygiene dengan Pemenuhan Rasa Nyaman pada Pasien Rawat Inap (kode092)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan keperawatan yang diberikan adalah upaya untuk mencapai derajat kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki dalam menjalankan kegiatan di bidang promotif, prefentif dan rehabilitatif dengan menggunakan proses keperawatan sebagai metode ilmiah keperawatan (Effendy, 1998:7).
American Nurses Association (ANA) mengatakan bahwa praktek keperawatan adalah pelayanan langsung, berorientasi pada tujuan, dapat diadaptasi oleh kebutuhan individu, keluarga dan masyarakat dalam keadaan sehat dan sakit (Effendy, 1998:7).
Dalam melakukan sistem pelayanan keperawatan dilakukan upaya-upaya yaitu berusaha memberikan asuhan keperawatan yang profesional dengan menggunakan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Dalam rangka menopang pelaksanaan asuhan keperawatan profesional diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu diperlukan pengembangan kemampuan, tenaga keperawatan secara kwalitatif dan kuantitatif (Jumadi, 1999:53).
Kebutuhan rasa nyaman adalah suatu yang diperlukan manusia dalam kehidupannya untuk membuat dirinya merasa enak baik fisik, psikis maupun sosial (Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, 1989:695). Beberapa hal yang mungkin dapat mempengaruhi pemenuhan rasa nyaman pada pasien yang dirawat adalah pelayanan keperawatan yang diberikan dengan baik diantaranya dengan memperhatikan kebersihan pasien dan juga komunikasi yang baik saat berhadapan dengan pasien dan sikap perawat saat melakukan tindakan pada pasien.
Dalam perawatan orang sakit, perawatan sehari-hari pasien adalah bagian penting dari keseluruhan paket tugas yang ada. Suatu perawatan yang baik, pertama-tama harus mementingkan faktor hygiene. Setelah itu orang akan berusaha untuk mempertahankan keadaan kesehatan dan kemudian memperbaikinya. Jika seseorang merasa kurang enak badan, ia biasanya kurang memperhatikan perawatan bagian luarnya. Ini menyebabkan meningkatnya rasa kesal, orang tidak lagi merasakan santai dibanding orang lain. Suatu perawatan mendukung perasaan nilai diri. Orang akan lebih mudah bertemu dengan orang lain tanpa adanya perasaan takut adanya bau yang tidak enak (Stevens, 2000:275).
Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Dengan implementasi tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu dalam lingkungan rumah sakit, perawat menambah tingkat kesembuhan pasien. Dengan mengajarkan cara hygiene pada pasien, pasien akan berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan dan partisipan dalam perawatan diri ketika memungkinkan (Perry, 2005:1334).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Rekam Medik RSU, terhitung dari bulan Januari – April pasien yang mendapat perawatan total care berjumlah 112 orang (7,29%) dan pasien parsial care berjumlah 934 0rang (58,24%) dari 1535 pasien rawat inap. Berarti setiap bulannya ada 28 orang (25%) yang dirawat total care. Dengan demikian dapat dilihat bahwa masih cukup banyak pasien yang mendapat perawatan total care sehingga peneliti ingin mengetahui apakah saat pasien dirawat rasa nyaman mereka terpenuhi dengan pelayanan yang mereka terima.
Berdasarkan hal di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Penatalaksanaan Personal Hygiene Dengan Pemenuhan Rasa Nyaman Pada Pasien Rawat Inap di RS Tahun”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Apakah ada hubungan antara personal hygiene dengan pemenuhan rasa nyaman pada pasien rawat inap di RS?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan penatalaksanaan personal hygiene dengan pemenuhan rasa nyaman pada pasien rawat inap di RS.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya penatalaksanaan personal hygiene pada pasien rawat inap di RS.
b. Diketahuinya rasa nyaman pasien rawat inap di Rs
c. Diketahuinya hubungan antara personal hygiene dengan pemenuhan rasa nyaman pada pasien rawat inap di RS.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi RS
Sebagai bahan masukan bagi Rumah Sakit dalam upaya meningkatkan pemenuhan rasa nyaman bagi pasien yang di rawat inap di RS.
2. Bagi Perawat
Sebagai acuan bagi perawat agar dapat meningkatkan pelayanan terutama dalam memenuhi rasa nyaman bagi pasien yang di rawat inap.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai acuan untuk peneliti selanjutnya
E. Ruang Lingkup
Penelitian ini akan di lakukan di RS pada bulan Juni .

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul

Hubungan Lingkar Pinggang dengan Kejadian Hipertensi di Poli Interne RSUD (kode089)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Hipertensi merupakan merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala berlanjut untuk suatu organ target, seperti stroke untuk otak, gagal ginjal untuk ginjal, dan penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama bagi negara berkembang maupun negara maju didunia. sebagian besar kasus hipertensi tidak ada terapi definitif, tapi dapat dikontrol dengan pola hidup sehat dan medikasi (www.sysinfokes kota Balikpapan.com.2008)
Hipertensi juga merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak dijumpai di masyarakat. Beberapa faktor terjadinnya hipertensi diantaranya ialah obesitas, kurang olah raga, merokok, menkomsumsi garam berlebihan, stres, umur, jenis kelamin, dan genitik. Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang terus meningkat sejalan dengan Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial ekonomi tertentu terutama diperkotaan, menyebabkan adanya perubahan pola makan dan pola aktifitas yang mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita obesitas yang merupakan salah satu faktor dari hipertensi (Sunita Almatsier, 2004)
Namun yang mengkhawatirkan bukanlah kondisi obesitas semata. Lingkar pinggang juga tidak kalah penting , seperti yang ditunjukan oleh banyak studi. Salah satunya adalah studi selama 10 tahun di National Yang Ming university, Taiwan yang dimuat di American Jaurnal of Hypertension , Agustus 2006. Terungkap bahwa orang-orang dengan timbunan lemak dipinggang berisiko tinggi mengalami hipertensi, Bahkan meskipun berat badan mereka tergolong sehat.(www.gizinet.com)
Selain lemak mengakibatkan obesitas, gumpalan lemak bisa mempersempit pembulh darah. Kolesterol dan lemak yang menempel di dinding pembuluh darah bisa mengakibatkan berbagai penyakit. Sebab, Aliran darah yang tidak lancar menbuat tekanan darah tinggi dan metabolisme tubuh terganggu. Lemak yang menempel di dinding pembuluh darah tadi bisa lepas dan dapat menyumbat dipembuluh darah yang kecil. Bila penyumbatan di pembuluh darah di otak, penderita akan mengakibatkan stroke. Klau penyumbatan dipembuluh darah jantung, terjadi penyakit jantung koroner.(Idrus, 2009)
Data dari penelitian terbaru yang dilakukan Askandar menunjukkan, 80 % pemilik pinggang berlemak berpotensi mengalami sindrom metabolik, termasuk tekanan darah tinggi(hipertensi),kolesterol darah meningkat, dan gula darah yang meninggi(diabetes miletus).(Jawa Pos 3 mei 2009 hal 10). Data awal yang diperoleh dari poli jantung RSUD pada bulan april terdapat 45 pasien dengan lingkar pinggang yang lebih. Namum belum dapat dikrasikan apakah terdapat yang menderita hipertensi pada pasien yang menpunyai lingkar pinggang yang lebih.
Dari uraian diatas, Peneliti berminat melakukan klarifikasi mengenai permasalahan lingkar pinggang yang lebih yang berkaitan dengan penibunan lemak di perut, Sebagai perawat mengetahui sejauh mana pola dan komplikasi lingkar pinggang yang nantinya dapat diketahui cara antisipasi dan pendidikan yang tepat sebagai langkah antisipasi dan peningkatan kualitas hidup.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah ada hubungan lingkar pinggang dengann kejadian hipertensi dipoli interne RSUD ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan lingkar pinggang terhadap angka kejadian hipertensi di poli jantung RSUD
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi apakah terdapat lingkar pinggang yang lebih lebih di poli jantung RSUD
b. Mengidentifikasi angka kejadian hipertensi di poli jantung RSUD
c. Menganalisa hubungan lingkar pinggang terhadap angka kejadian hipertensi di poli interne RSUD

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Peneliti dapat mengaplikasikan penelitian keperawatan secara riil, serta mengetahui secara ilmiah tentang sejauh mana lingkar pinggang yang tidak normal pada timbulnya hipertensi sehingga kedepannya dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami obesitas (tipe buah apel) dapat dihindari dengan pola hidup sehat
2. Bagi Instansi Terkait
Sebagai bahan masukan dan informasi tentang pengaruh obesitas (tipe buah apel) dengan kejadian hipertensi
3. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa obesita bukan suatu hal yang sehat sehingga perlu diwaspadai agar tiap individu dapat meningkatkan kemandirian perilaku sehat

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul

Hubungan antara Indeks Masa Tubuh (IMT) dan Lingkar Perut dengan Kejadian Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan (kode072)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskuler setiap tahun menjadi masalah utama di negara berkembang dan negara maju. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) tahun 2000, 50% dari penyakit kardiovaskuler disebabkan oleh hipertensi.  Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999 – 2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29% – 31%, yang berarti terdapat 58 – 65 juta penderita hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data tahun 1988 – 1991. (Marssy, 2007)
Di Indonesia, peluang masyarakat menderita hipertensi belum sebesar di Negara maju, namun ancaman penyakit ini tidak boleh diabaikan begitu saja, terlebih bagi masyarakat perkotaan yang mudah mengakses gaya hidup modern yang tidak sehat, seperti banyak mengkonsumsi makanan cepat saji, kebiasaan hidup yang lebih banyak duduk dari pada bergerak bagi kebanyakan masyarakat kota yang bekerja di kantor, dengan gaya hidup tersebut akan menjadi momok yang menakutkan. Pendapat para ahli dari hasil penelitian diperkirakan bahwa penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan terserang penyakit hipertensi adalah 1,8 % – 2,86%. Namun sebagian besar penelitian menyatakan 8,6 % – 10 % persentase penderita di perkotaan lebih besar dibandingkan dengan sejumlah penderita di pedesaan. (Dalimartha, dkk, 2008)
Hasil penelitaian pada tahun 2000 menunjukkan bahwa atas dasar pengukuran tekanan darah yang dilakukan 34,9% penduduk Indonesia terkena hipertensi. Prevalensi terbesar terdapat di provinsi   dan Kepulauan  sebesar 45,0%, terkecil di Papua 24,7%. Dilihat menurut kawasannya, Jawa Bali paling besar prevalensinya 22,24% dan terkecil di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebesar 6,06%. Jadi, wilayah  dan Kepulauan  memiliki peringkat teratas, kejadian hipertensi pada tahun tersebut. (Marssy, R .2007)
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar tentang seseorang yang menderita penyakit tekanan darah tinggi. Penyakit tekanan darah tinggi dalam bahasa medis disebut hipertensi. Penyakit ini sebagian besar diderita oleh seseorang tanpa merasakan gejala-gejala hipertensi walaupun sudah dalam tahap yang serius. Oleh karena itu, penyakit ini sering disebut “silent killer” atau pembunuh diam-diam. (Cahyono, 2008)
Salah satu faktor resiko hipertensi adalah obesitas atau kegemukan dimana, berat badan mencapai indeks masa tubuh (IMT) > 27. Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi yang tidak obesitas.  (Rusdi, dkk 2009)
Di samping obesitas, lingkar perut juga merupakan parameter penting untuk menentukan resiko terjadinya penyakit jantung dan hipertensi. Semakin besar lingkar perut seseorang, resiko terjadinya penyakit jantung dan hipertensi pada orang tersebut lebih besar. Para ahli menyimpulkan, setiap penambahan 5 sentimeter pada lingkar pinggang  atau perut, risiko kematian dini akan meningkat antara 13% hingga 17 %. ( Misnadiarly, 2007 )
Berdasarkan sumber yang diperoleh dari bagian Bina dan Rekam Medis RSUD   tahun , jumlah penderita yang berkunjung ke instalasi Rawat Jalan Poliklinik Jantung RSUD  sebanyak 5.579 orang, yang terlampir pada table 1.1
Tabel 1.1
Distribusi Frekuensi Sepuluh Besar Penyakit Jantung
di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Jantung
RSUD 
Tahun
No    Nama Penyakit    Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10    Hipertensi Heart Disease (Hhd)
Hhd Without Congestive Heart Failur
Palpitosions
Hhd With Congestive Heart Failur
Other Chest Pain
Angina Pectoris
Unstable Angina
Atherosclerotic Cardiovasculer Disease
Congestive Heart Failure
Acute Myocardial Infark    1.188
734
616
565
556
424
412
405
389
290
                                       Total                                                  5.579
Sumber : Bina dan Rekam Medik RSUD   Tahun
Dari tabel diatas, penyakit hipertensi merupakan penyakit nomor satu dari 10 besar penyakit jantung di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Jantung RSUD  , jumlah penderitanya mencapai angka 1.188 orang pada tahun .
Dari pengamatan, penulis menemukan 6 dari 10 pasien yang berkunjung poliklinik jantung RSUD   adalah  mereka yang mengalami kelebihan berat badan. Dimana ukuran berat badan tidak seimbang dengan tinggi badan sehingga dapat dikategorikan pada gemuk tingkat ringan  dan gemuk tingkat berat. Kelebihan berat badan dapat dijadikan indikator untuk populasi penderita hipertensi. Kemudian lingkar perut seseorang yang mengalami obesitas sentral (buncit) menurut penulis juga akan beresiko tinggi terserang hipertensi, disebabkan oleh penumpukan lemak dan cairan di rongga perut.
Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung  RSUD  .

1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan Indeks Masa Tubuh  (IMT) dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung RSUD   tahun ?”

1.3     Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung  RSUD   Tahun .
1.3.2     Tujuan Khusus
1.3.2.1    Untuk mengetahui Indeks Masa Tubuh (IMT) pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung  RSUD  .
1.3.2.2    Untuk mengetahui lingkar perut pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung  RSUD  .
1.3.2.3    Untuk mengetahui hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan kejadian hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung RSUD  .
1.3.2.4    Untuk mengetahui hubungan lingkar perut dengan kejadian    hipertensi di instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung RSUD  .
  
1.4     Manfaat Penelitian
1.4.1     Peneliti
 Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan penelitian ilmiah, tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi.
1.4.2     Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan dan dapat menambah wawasan bagi mahasiswa / mahasiswi serta dapat dijadikan sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan penyakit hipertensi.
1.4.3     Institusi Terkait
Penelitian ini dapat memberikan informasi atau masukan tentang hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di poliklinik penyakit dalam  RSUD    dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

1.5    Ruang Lingkup
Oleh karena keterbatasan waktu, biaya dan pengetahuan dalam penelitian ini, penulis membatasi penelitian pada hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT)  dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Instalasi Rawat Jalan poliklinik Jantung  RSUD   Tahun . Meliputi pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan dan lingkar perut responden.

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul

Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Pasca Melahirkan terhadap Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif di RSUP (kode069)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Pemberian air susu ibu (ASI) sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Oleh karena itu, pemberian ASI perlu mendapat perhatian para ibu dan tenaga kesehatan agar proses menyusui dapat terlaksana dengan benar (Afifah, 2007). Selain itu, pemberian ASI dapat menurunkan risiko kematian bayi (Nurmiati, 2008).
Pemberian ASI eksklusif adalah langkah awal bagi bayi untuk tumbuh sehat dan terciptanya sumber daya manusia yang tangguh, karena bayi tidak saja akan lebih sehat & cerdas, tetapi juga akan memiliki emotional quotion (EQ) dan social quotion (SQ) yang lebih baik (Sentra Laktasi Indonesia, 2007). Berdasarkan laporan 500 penelitian, The Agency for Healthcare Research and Quality menyatakan bahwa pemberian ASI berhubungan dengan pengurangan resiko terhadap otitis media, diare, infeksi saluran pernafasan bawah, dan enterokolitis nekrotikans (Massachusetts Department of Public Health Bureau of Family Health and Nutrition, 2008).
Namun pada kenyataannya, pengetahuan masyarakat tentang ASI eksklusif masih sangat kurang, misalnya ibu sering kali memberikan makanan padat kepada bayi yang baru berumur beberapa hari atau beberapa minggu seperti memberikan nasi yang dihaluskan atau pisang. Kadang- kadang ibu mengatakan air susunya tidak keluar atau keluarnya hanya sedikit pada hari-hari pertama kelahiran bayinya, kemudian membuang ASI-nya tersebut dan menggantikannya dengan madu, gula, mentega, air atau makanan lain.
Di negara berkembang, lebih dari sepuluh juta balita meninggal dunia pertahun, 2/3 dari kematian tersebut terkait dengan masalah gizi yang sebenarnya dapat dihindarkan. Penelitian di 42 negara berkembang menunjukkan bahwa pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang mempunyai dampak positif terbesar untuk menurunkan angka kematian balita, yaitu sekitar 13%. Pemberian makanan pendamping ASI yang benar dapat menurunkan angka kematian balita sebesar 6%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, perilaku memberikan ASI secara eksklusif pada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan dapat menurunkan angka kematian 30.000 bayi di Indonesia tiap tahunnya (Sentra Laktasi Indonesia, 2007).
Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003, hanya 3, 7 % bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, sedangkan pemberian ASI pada usia 2 bulan pertama 64%, yang kemudian menurun pada periode berikutnya umur 3 bulan 45,5 %, pada usia 4-5 bulan 13,9% dan umur 6-7 bulan 7,8 %. Sementara itu ada peningkatan penggunaan pengganti air susu ibu (PASI) yang biasa disebut formula atau susu formula tiga kali lipat dalam kurun waktu 1997 dari 10,8% menjadi 32,4 % pada  tahun 2002, hali ini mungkin diakibatkan kurangnya pemahaman, dukungan keluarga dan lingkungan akan pemberian ASI secara eksklusif (Tjipta, 2009).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ” Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Pasca Melahirkan  Terhadap Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif di RSUP Tahun ”, sehingga nantinya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan penyuluhan kepada ibu – ibu hamil mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi.

1.2.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran tingkat pengetahuan ibu pasca melahirkan terhadap pentingnya pemberian ASI eksklusif di RSUP tahun .

  
1.3.    Tujuan Penelitian
1.3.1.    Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu-ibu pasca melahirkan terhadap pentingnya pemberian ASI eksklusif di RSUP Tahun .

1.3.2.    Tujuan Khusus
Tujuan – tujuan penelitian ini antara lain:
1    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan terhadap pentingnya ASI eksklusif berdasarkan karakteristik umur ibu-ibu pasca melahirkan di RSUP Tahun .
2    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan terhadap pentingnya ASI eksklusif berdasarkan karakteristik jenjang pendidikan ibu-ibu pasca melahirkan di RSUP Tahun 3    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan terhadap pentingnya ASI eksklusif berdasarkan karakteristik jumlah anak ibu-ibu pasca melahirkan di RSUP Tahun .

1.4.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk:
1.    Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan memberikan informasi bagaimana gambaran tingkat pengetahuan ibu terhadap pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi.
2.    Manfaat penelitian ini bagi masyarakat, ibu – ibu pasca melahirkan sebagai responden, diharapkan dapat memperluas pengetahuan terhadap pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi  dan sebagai sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan pengetahuan ibu terhadap pentingya pemberian ASI eksklusif pada bayi.
3.    Bahan masukan dan evaluasi pertimbangan bagi RSUP dalam menyusun kebijakan pada masa mendatang dalam upaya meningkatkan upaya pemberian ASI eksklusif.

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul

Gambaran Pengetahuan tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU (kode060)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari dan sama dengan 37 minggu dengan berat badan lahir rendah yaitu kurang dari 2500 gram (Surasmi, 2003). Di negara maju seperti Amerika Serikat, kelahiran bayi prematur terus meningkat per tahunnya, di Indonesia kelahiran bayi prematur justru diikuti kematian si bayi, kelahiran  bayi prematur tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sejak tahun 1961 WHO (World Health Organization) telah mengganti istilah prematur dengan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) atau Low Birth Weight Baby. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada lahir waktu lahir disebut bayi prematur. Seorang bayi prematur belum berfungsi seperti bayi matur, oleh sebab itu bayi akan banyak mengalami kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya (Prawirohardjo, 2004)
Setiap tahun diperkirakan bayi lahir sekitar 350.000 bayi prematur atau berat badan lahir rendah di Indonesia. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat ini 30 juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi kronik dan sekitar 80% ibu hamil menjalani anemia difisiensi gizi. Tingginya yang kurang gizi mengakibatkan pertumbuhan janin terganggu sehingga beresiko lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram (Manuaba, 2003).
Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah rentan mengalami berbagai komplikasi, baik sesaat setelah dilahirkan dan dikemudian hari, jika tidak langsung mendapat perawatan yang tepat, inilah yang banyak dikhawatirkan para ibu, terutama yang tengah menanti kelahiran si bayi, tidak ada cara pasti untuk benar-benar mencegah kelahiran bayi prematur.
Bayi prematur membutuhkan dukungan nutrisi yang khusus oleh karena derajat imaturitas biokomianya yang tinggi, laju pertumbuhannya yang cepat dan dapat terjadi insiden komplikasi medik yang lebih besar. Bayi yang lahir prematur juga harus diberi vaksinasi agar terhindar dari penyakit menular mematikan. Pemberian imunisasi ini harus dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter, demikian juga dengan pemberian makan semi padat  (Muchtar, 2004).
Untuk bayi yang lahir secara prematur dengan berat badan diatas 2000 gram, anak sudah bisa mendapatkan ASI dari si Ibu, tetapi juga ada bayi yang belum bisa menyerap ASI, saluran cerna yang belum matang juga akan menimbulkan dampak pada bayi prematur. Bayi prematur diharuskan dibuat di inkubator, karena bayi tersebut seharusnya masih berada di dalam kandungan dengan segala kenyamanannya berjuang beradaptasi dengan dunia luar. Inkubator untuk menjaga suhu bayi supaya tetap stabil, akibat sistem pengaturan suhu dalam tubuh bayi prematur belum sempurna, maka seharusnya bisa naik dan turun secara drastis. Ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Selain itu otot-ototnya pun relatif lebih lemah, sementara cadangan lahir cukup bulan (Muchtar, 2004).
Masalah yang harus dihadapi oleh semua bayi neonatal terhadap lebih banyak pada bayi prematur misalnya, mereka membutuhkan oksigen tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang cukup umur, karena  pusat pernafasan belum sempurna. Bayi prematur memerlukan pemberian makanan yang khusus dengan alat penetes obat atau pipa karena refleks menelan dan menghisap yang lemah. Kehangatan bayi prematur harus diperhatikan diperlukan peralatan khusus untuk memperoleh suhu yang hampir sama dengan suhu dalam rahim (Hurlock, 2002).
Selama bayi berada di rumah sakit dan di bawah perawatan dokter, Bidan dan Perawat, orang tua tidak terlampau khawatir tentang ketidak berdayaannya, akan tetapi bila bayi sudah dibawa pulang dan orang tua bertanggung jawab atas perawatannya, maka ketidakberdayaan bayi menjadi bahaya psikologi yang hebat.
Berdasarkan hasil survey lapangan yang dilakukan peneliti di RSU. Tahun jumlah bayi prematur 55 orang dan bayi prematur yang tinggal bersama keluarga sebannyak 48 orang di RSU. Tahun .
Dari survey awal di dapat dari rekam medik RSU. Tahun terdapat 36 kasus bayi prematur dan sudah 10 orang diantaranya meninggal dunia.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU. Tahun ”.

B.    Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU. Tahun ?”.

C.    Tujuan Penelitian
C.1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur di RSU. .
C.2.    Tujuan Khusus
1.    Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan umur.
2.    Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pendidikan.
3.    Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pelatihan.
4.    Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan sumber informasi.

D.    Manfaat Penelitian
1.    Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa/i tentang perawatan bayi prematur dan sebagai bacaan di perpustakaan Jurusan Keperawatan di Akademi Keperawatan Nauli Husada Sibolga
2.    Bagi Masyarakat
Untuk menambah pengetahuan masyarakat khususnya ibu tentang perawatan bayi prematur.
3.    Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan peneliti tentang perawatan bayi prematur dan juga sebagai  pengalaman penulis dalam mengaplikasi-kan riset keperawatan.
4.    Bagi Praktek Keperawatan Komunitas
Sebagai bahan informasi yang bermanfaat tentang pentingnya perawatan bayi prematur.

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul

Gambaran Pengetahuan Pasien tentang Manfaat Kebutuhan Tidur terhadap Proses Penyembuhan Penyakit (kode052)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Istirahat dan tidur yang sesuai adalah sama pentingnya bagi kesehatan yang baik dengan nutrisi yang baik dan olah raga yang cukup. Tiap individu membutuhkan jumlah yang  berbeda untuk istirahat dan tidur. Kesehatan fisik dan emosi tergantung pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Tanpa jumlah istirahat dan tidur yang cukup, kemampuan untuk berkonsentrasi membuat keputusan dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun dan meningkatkan iritabilitas (Potter, dkk, 2005).
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Dengan tidur  semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Tidur yang cukup dapat memainkan peranan dalam membantu tubuh kita untuk pulih dari penyakit atau luka. Penelitian menunjukkan  bahwa kurang tidur mengakibatkan kehilangan kekuatan, kerusakan pada sistem kekebalan dan meningkatkan tekanan darah (Nancy W, 2006).
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami oleh seseorang, yang dapat dibandingkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Robert Priharjo, 1993).
Memperoleh kualitas tidur yang terbaik adalah penting untk peningkatan kesehatan yang baik dan pemulihan individu yang sakit. Perawat memperhatikan klien yang sering kali mengalami gangguan tidur yang ada sebelumnya dan klien yang mengalami masalah tidur karena penyakit atau hospitalisasi. Kadang-kadang, klien  mencari pelayanan kesehatan karena mereka mempunyai masalah tidur yang mungkin telah hilang tanpa disadari untuk beberapa tahun. Klien yang sakit  sering kali membutuhkan lebih banyak tidur dan istirahat dari pada klien yang sehat. Akan tetapi, sifat alamiah dari penyakit yang mencegah klien untuk mendapatkan istirahat dan tidur yang cukup. Lingkungan institusi Rumah Sakit atau fasilitas Perawatan jangka panjang dan aktivitas petugas pelayanan kesehatan dapat menyebabkan sulit tidur (Potter, dkk, 2005).
Secara umum, sebagian besar orang dewasa yang sehat rata-rata memerlukan tujuh sampai sembilan jam tidur setiap malam, walaupun kebutuhan tidur setiap orang berbeda. Kebutuhan akan tidur tidak berkurang karena usia, walaupun kemampuan untuk mempertahankannya mungkin menurun (Nancy W, 2006).
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Pusat control irama sirkadian terletak pada bagian ventral anterior hypothalamus. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/ desinkronisasi terdapat pada bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal state (Iskandar J, 2002).
Tidur juga penting bagi fungsi emosional dan mental. Kurang tidur dapat mempengaruhi konsentrasi dan merusak kemampuan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan memori, belajar, pertimbangan logis, dan penghitungan matematis. Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilaporkan dalam New York Times mengesankan bahwa kurang tidur yang kronis bisa semakin membuat proses penuaan terasa menyulitkan. Bagi Odha, ganggauan tidur dapat mengakibatkan kemerosotan mutu hidup. Misalnya, gangguan tidur dapat menyebabkan kelelahan pada siang hari dan mempengaruhi status fungsional dan mutu hidup (Nancy W, 2006).
Banyak orang HIV-positif dengan kelelahan pada siang hari juga mengalami kelainan tidur. Jadi, diagnosis yang benar dan pengobatan medis terhadap kelainan tidur dapat menghasilkan perbaikan bermakna dalam mutu hidup. Keluhan gangguan tidur juga dihubungkan dengan depresi dan rasa sakit, keduanya yang juga mempersulit kita untuk tertidur atau menyebabkan terbangun pada malam atau dini hari. Insomnia, yaitu sulit tidur atau tidur terus, juga meluas dan kurang terdiagnosis pada orang yang HIV-positif (Nancy W, 2006).
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol (Iskandar J, 2002).
Menurut data International of Sleep Disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65%). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%) (Iskandar J, 2002).
Dari latar belakang di atas, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit di Rumah Sakit Tahun ”.

B.    Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Pasien Tentang Manfaat Kebutuhan Tidur Terhadap Proses Penyembuhan Penyakit di Rumah Sakit Umum Tahun ?”

C.    Tujuan Penelitian
C.1.    Tujuan Umum
    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit di Rumah Sakit Umum Tahun .
C.2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap  proses penyembuhan penyakit berdasarkan umur di RSU. Tahun .
b.    Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit berdasarkan pekerjaan di RSU. Tahun .
c.    Untuk mengetahui pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit berdasarkan pendidikan di RSU. Tahun .

D.    Manfaat Penelitian
1.    Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa/i di perpustakaan Akper , dapat sebagai acuan atau pedoman bagi mahasiswa/i yang melakukan penelitian selanjutnya.
2.    Bagi Rumah Sakit
    Sebagai bahan masukan tentang seberapa besar pengetahuan pasien tentang manfaat kebutuhan tidur terhadap proses penyembuhan penyakit.
3.    Bagi Peneliti
    Untuk menambah pengetahuan dan dapat meningkatkan pengetahuan dan memberi informasi kepada pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar manfaat tidur.

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul

Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Postpartum di RB (kode043)

ABSTRAK

Di Indonesia setiap 1 jam terdapat dua orang ibu meninggal, menteri kesehatan Siti Fadilah Supara pada sebuah kesempatan menyatakan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2006 mencapai 291 jiwa per 100.000 kelahiran hidup. (Maryunani, 2009) Menurut survey kesehatan rumah tangga (SKRT) selama 10 tahun angka kematian ibu terutama disebabkan perdarahan postpartum 67% dan 70% faktor – faktor yang mempengaruhi yaitu faktor penolong persalinan, dan faktor tempat tinggal ibu yang kotor dan tidak dirawat sehingga disebabkan infeksi pada saat post postpartum. Berdasarkan masalah yang ditemukan saat ini dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan perawatan postpartum berdasarkan umur, pendidikan, dan paritas. Penelitian ini dilakukan di RB tahun yang dilaksanakan pada bulan Februari s/d selesai penelitian ini berjenis deskriptif yaitu menggambarkan suatu masalah secara objektif dimana data yang dikumpulkan dengan memberikan kuesioner pada responden dimana jumlah populasi dalam penelitian ini 30 responden dan peneliti mengambil keseluruhan populasi menjadi sampel yaitu sebanyak 30 responden. Adapun hasil penelitian ini adalah didapati responden yang berpengetahuan baik sebanyak 10 responden (33,3%) berpengetahuan cukup 18 responden (60%) dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 2 responden (6,7%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa umur pendidikan dan paritas mempengaruhi pengetahuan ibu tentang perawatan postpartum. Dengan demikian diharapkan dengan tingginya pengetahuan ibu tentang perawatan postpartum dapat meningkatkan derajat kesehatan khususnya ibu.
Kata Kunci : Pengetahuan Ibu Nifas, Perawatan Postpartum

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menghadapi jangka panjang tahap II terdapat dua isu nasional yaitu tingginya angka kematian ibu prenatal dan peningkatan sumber daya manusia dalam peran bidan tindakan khusus dalam penurunan angka kematian ibu dan kesehatan pada ibu terutama pada daerah pedesaan. Asuhan dan nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa keritis dan ibu maupun bayinya, diperkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Ambarwati. 2009).
Di Indonesia dalam setiap 1 jam dua orang ibu meninggal. Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supara pada sebuah kesempatan menyatakan bahwa angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2006 mencapai 291 jiwa per 100.000 kelahiran hidup (Mariyunani, 2009).
Pada tahun 2002 – 2003, AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI, kemudian menjadi 248 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Hasil ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010 yaitu sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup. (Sudaryanto, 2009).
Sementara itu target penurunan AKI secara nasional dalam recana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 125 jiwa per 100.000 kelahiran hidup.dalam sebuah majalah kesehatan ibu kota Mei 2007 diungkapkan bahwa di dunia terjadi kematian seorang ibu setiap menit. (Mariyunani, 2009).
Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, ekmpsi, partus lama, dan komplikasi abortus. Menurut survey kesehatan rumah tangga (SKRT) selama 10 tahun angka kematian ibu terutama disebabkan postpartum sekitar 67% dan 70% kematian karena trias preeklamsi, perdarahan, dan infeksi dapat dihindari. Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu faktor penolong persalinan, dan faktor tempat tinggal ibu yang kotor dan tidak dirawat sehingga menyebabkan infeksi pada saat postpartum merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya kematian ibu, deteksi dini terhadap infeksi selama persalinan postpartum yang bersih dan perawatan semasa postpartum yang besar dapat mengulangi masalah ini. (http://kb1.gemari:u.id/beritadetal-pnp?id-1610).
Perawatan pasca persalinan yaitu mobilisasi karena lelah sehabis bersalin ibu harus istirahat tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan-jalan dan hari keempat atau kelima sudah diperbolehkan pulang. (usu.2009.http://www.nokita,com)
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Postpartum.

1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Postpartum di Rumah Bersalin tahun .

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Postpartum di Rumah Bersalin Tahun
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan postpartum di Rumah Bersalin berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan postpartum di Rumah Bersalin berdasarkan pendidikan.
3. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan postpartum di Rumah Bersalin berdasarkan paritas.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Bersalin
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan di RB. tentang perawatan postparum bagi ibu bersalin.
2. Bagi Responden
Sebagai masukan dan menambah pengetahuan bagi ibu nifas tentang pentingnya perawatan Postpartum sehingga tidak terjadi kelainan dan infeksi dalam masa nifas.
3. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam hal yang berkaitan dengan pengetahuan ibu nifas tentang perawatan Postpartum.
4. Bagi Instansi Pendidikan
Dapat dijadikan sebagai tambahan referensi atau buku bacaan di perpustakaan Akademi Kebidanan Kab. .

silahkan downlod KTI Skripsi dengan judul
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.